Bagian-bagian dari Suatu Kuta

Bagian-bagian dari Suatu Kuta Mejuahjuah.id I Ensiklopedia Karo

Mejuahjuah.id – Kuta terdiri atas beberapa bagian yang meliputi suatu daerah yamg sangat luas. Daerah-daerah itu mempunyai fungsinya masing-masing. Adapun bagian-bagian dari kuta adalah :

1. Rumah Adat

Rupiah Adat adalah suatu rumah tempat beberapa keluarga dan pada umumnya empat, delapan, atau kadang juga lebih. Rumah adat merupakan kesatuan dalam bertindak keluar rumahya. Ruinah adat dipimpin oleh penghuni jabu benana kayu. Penempatan penghunian nunah adat sudah ditetapkan dengan norma adat, jadi tidak dapat dihuni dengan sembarangan saja.

2. Kesain

Tiap-tiap kuta mempunyai kesain (alun-alun), sebagai tempat segala upacara-upacara adat berlangsung. Kesain juga berfungsi sebagai tempat anak-anak untuk bermain-main. Suatu kampung sekurang-kurangnya mempunyai suatu kesain, tetapi adakalanya juga  terdapat beberapa kesain, terutama pada kampung-kampung yang besar. Pada zaman dahulu, ketika stratifikasi sosial masih nyata tidak semua penduduk kampung dapat mengadakan pesta di kesain ini  melainkan hanya mereka yang berasal dari kelompok si mantek kuta saja dan kadang-kadang juga kelompok ginemgem setelah mendapat izin dari kelompok pertama.

3. Jambur

Jambur berfungsi sebagai:

1) Tempat menyimpan padi (lumbung) dan menyimpan padinya pada bagian-bagiannya. 2) Bagian atas sebagai tempat jejaka (anak perana) tidur.

3) Bagian bawah sebagai tempat duduk-duduk secara informal atau dapat disamakan dengan fungsi warung sekarang ini. Di sinilah biasanya orang-orang tua menceritakan cerita adat atau sejarah kepada yang muda-mudi.

4) Tempat memasak lauk-pauk waktu pesta-pesta berlangsung. dan lain-lain.

4. Geriten

Geriten adalah tempat tengkorak para leluhur pendiri kampung (kuta) atau salah seorang dari para anggota keturunannya yang berprestasi, berwibawa (gezag). Jadi dibuatnya suatu geriten untuk seseorang tertentu tidak dapat dengan sembarangan saja, tetapi harus ditinjau dari sudut moral, kewibawaan, kekuasaan, kekayaan, dan sebagainya. Pokoknya orang yang dimasukkan ke dalam geriten, adalah patut menjadi contoh bagi orang lain, terutama para keturunannya.

5. Peken (reba)

Di sekitar kuta dibuat menjadi perkebunan, tempat para anggota kuta menanam tanaman keras seperti jeruk, kelapa, kemiri, dan sebagainya. Peken harus dibuat berpagar agar hewan-hewan peliharaan tidak masuk ke dalamnya. Jika peken tidak diberi pagar maka apabila ada ternak atau hewan yang masuk ke peken dan mengganggu tanaman-tanaman yang teradapat di dalamnya, hewan itu tidak boleh dibunuh atau disiksa dan kerugiannya tidak diganti oleh pemilik ternak. Apabila ada yang membunuh hewan itu, maka ia wajib membayar ganti rugi. Luas daerah untuk peken ini biasanya ditentukan sampai ditemukannya baluren (sungai kecil). Lewat dari daerah ini barulah mulai perjuman (perladangan). Lewat dari daerah itu apabila ada hewan yang mengganggu tanaman dapat dibunuh dengan syarat memberi peringatan terlebih dahulu kepada si pemilik hewan sebanyak dua kali. Kepala hewan yang dibunuh harus diserahkan kepada pemiliknya dan apabila ia tidak mau menerimanya diserahkan kepada Pengulu (kepala kampung). Jadi baluren inilah yang menjadi batas hewan berkeiiaran secara tanpa bisa diganggu gugat (kajang kuta `batas kampung’).

Baca Juga  Perkakan & Peragin

6. Pendonen

Pendonen (kuburan), adalah tempat warga desa yang meninggal dunia dikuburkan. Ide tentang pembuatan kuburan ini masih baru sejalan dengan datangnya penjajahan Belanda di Tanah Karo sekitar tahun 1908, sedangkan sebelumnya mayat dibakar.

7. Perjuman

Tanah-tanah di luar batas peken dipergunakan untuk perladangan (perjuman), tanah-tanah ladang ini tidak diberi pagar. Bila ada ternak atau hewan seseorang yang mengganggunya maka pemiliknya wajib memberi ganti rugi atas kerusakan tanaman tersebut. Apabila telah diberi peringatan sebanyak dua kali maka hewan yang tidak diikat tetap mengganggu tanaman itu dapat dibunuh.

8. Kerangen

Kerangen kuta adalah hutan milik kampung. Di hutan inilah para warga kuta mencari kayu api dan mengambil keperluannya untuk membangun rumah dan sebagainya. Di samping kerangen kuta, biasanya juga ada deleng (rimba raya) sebagai tempat penduduk mengambil balok-balok besar untuk keperluannya.

9. Barung

Barung adalah wilayah di luar perladangan (perjuman), sebagai tempat para warga kuta menggembalakan ternaknya. Ternak-temak yang dipelihara di Barung ini harus ada gembalanya (permakan), untuk menjaga jangan sampai ternak keluar dari daerah itu dan tidak mengganggu tanaman orang lain. Apabila ada warga kuta yang mengusahakan perladangan di daerah peternakan (perbarungen), maka ia wajib untuk memagar ladangnya. Apabila ada ternak yang mengganggu atau memakan tanaman itu, maka tidak ada haknya untuk meminta ganti rugi. Hewan-hewan itu juga tidak boleh disiksa atau dilukai karena tempat itu adalah daerah peternakan.

10. Perjalangen

Tiap-tiap kuta biasanya disediakan sebidang tanah yang luas sebagai tempat peternakan yang hewan-hewannya tidak digembalakan yang disebut perjalangen. Perjalangen adalah  milik si mantek kuta, sebagai bagian dari kesain (tanah ulayat). Di daerah perjalangen ini tidak boleh dibuka menjadi tanah perladangan. Penduduk kampung yang membuka ladang di tempat perjalangen harus memenuhi syarat tertentu yakni : mendapat izin Pengulu, memagar ladangnya, dan membayar sewa tanah kepada Pengulu. Permintaan izin kepada Pengulu adalah karena pengulu sebagai bangsa tanah merupakan pemilik tanah danpengul mengatur peruntukan tanah di kampung atau kutanya.

Setiap anggota masyarakat yang membuka ladangnya di sekitar tanah perjalangen harus memagar ladang tersebut dengan baik. Apabila karena kelalaian hewan masuk ke ladang itu, maka tidak ada hak baginya menuntut ganti rugi. Pemilik hewan hanya berkewajiban encibalken pokpok, yakni tepung beras dimasukkan dalam bakul nasi (perakan) dilengkapi dengan dengan pisang, tembakau, daun jagung, gamber, pisang, dan belo bujur (sirih) Tujuan pemberian cimpa pokpok ini agar jiwa dari tanaman tidak terganggu dan hasil padi tetap baik. Cimpa pokpok ini biasanya digantungkan pada daun enau kecil (bertok) atau batang pimping (sanggar).

11. Tapin

Tiap-tiap kuta mempunyai sekurang-kurangnya dua permandian (tapin), yakni satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Tata cara mandi di pemandian pria harus memperhatikan rebu (pantang), di mana orang-orang yang beripar (ersilih) atau antara Kela (anak mantu) dengan bapak mertua a9mama) dilarang mandi bersama-sama di tapin tersebut.

Baca Juga  Musyawarah (Runggu) dalam Adat Karo

12. Buah Uta-uta

Buah uta-uta adalah tempat dilakukan upacara-upacara keagamaan (religius) dilangsungkan. Buah uta-uta (pengulu balang) ini dapat kita samakan fungsinya seperti Masjid atau Gereja. Tiap-tiap kuta harus mempunyai buah uta-uta ini.

Apabila terjadi musim kemarau, maka penduduk kampung biasanya melakukan upacara ndilo wari udan (memohon hujan datang) di tempat ini. Dan bila permohonan ini berhasiI dan hasil panen memuaskan (mbuah page) maka kembali mengadakan upacara mere buah uta-uta (memuja buah uta-uta).

Apabila kuta (desa) telah menjadi ramai dan tanah-tanah untuk kebutuhan hidup sudah dirasakan terlalu sempit, maka salah seorang dari keturunan si mantek kuta (pendiri kampung) pindah ke tempat lain mendirikan kampung baru dengan membawa anak beru, senina, dan kalimbubu beserta beberapa orang ginemgem-nya.

—–

Kadang perpindahan ini terjadi karena adanya persaingan-persaingan di kuta yang lama dan menyebabkan sebagian tersisih dan mendirikan kuta baru karena yang boleh menjadi Pengulu adalah anak sulung (sintua) atau bungsu (singuda). Olch karena itu, biasanya yang pindah adlah putra yang di tengah (sintengah).

Demikianlah setelah beberapa kampung didirikan akhirnya terbentuklah baba urung (raja urung) dengan konfederasi dari kuta-kuta itu. Jadi masih tetap terkait dengan kampung asalnya dengan kewajiban membayar sejumlah tertentu kepada desa asal tersebut. Demikianlah lama kelamaan proses ini berlangsung terus-menerus dan akhirnya terbentuklah Sibayak (kerajaan) yang merupakan perpaduan dari beberapa bapa urung.

Keadaan kuta-kuta di Tanah Karo sejak penjajahan Belanda dan masa kemerdekaan Indonesia mulai mengalami perubahan, dan perkembangan. Perkembangan ini telah membuat perubahan yang mendasar pada sistem kuta. Pemerintah penjajahan telah menjadikan kepemimpinan menjadi turun-temurun dan pada masa kemerdekaan telah mengubah sistem kepemimpinan tradisional dengan kepemimpinan modern, yang memberi kesempatan kepada semua warga kuta hak yang sama menjadi pemimpin.

Hak-hak atas tanah yang tadinva merupakan hak ulayat (tanah kesain) dan dikuasai oleh Pengulu (si mantek kuta) dengan keluarnya Undang-undang Pokok Agraria (UUPA No. 5 tahun 1960), telah berangsur hilang dan berubah menjadi hak milik pribadi. Akibatnya penggambaran kuta diatas tidak tepat lagi.

Sumber : Adat Karo – Darwan Prinst, SH      

© Mejuahjuah.id /CATATAN : Setiap konten di website Mejuahjuah.id memiliki hak cipta. Jika ingin mengutip sebagian ataupun seluruh isi dari setiap artikel dalam website ini harap menghubungi kami atau memberikan asal sumber kutipan dari Mejuahjuah.id.
Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published.