Erpangir Ku Lau

Erpangir Ku Lau Mejuahjuah.id I Ensiklopedia Karo

Erpangir Ku Lau. (Buku Pilar Budaya Karo)

Mejuahjuah.id – Masih terdapat pada masyarakat Karo suatu kegiatan Membersihkan Diri (Erpangir Ku Lau). Erpangir Ku Lau dalam arti lebih mendalam termasuk kepercayaan menciptakan ketenangan bathin dan harapan masa depan yang lebih baik. Atau setidaknya setelah dilakukan Erpangir Ku Lau, ada perubahan yang terdapat pada si pelaku terutama dalam menumbuhkan semangat kerja.

Ada berbagai nama Erpangir Ku Lau dilakukan. Hal itu erat sekali hubungannya dengan kepercayaan yang dikaitkan dengan latar belakang kehidupan si pelaku. Contohnya adalah sebagai berikut:

.

Erpangir karena adanya mimpi buruk.

Untuk menangkal mimpi buruk tersebut agar jangan benar-benar terjadi maka dilakukan kegiatan Erpangir Ku Lau.

.

Erpangir karena penyakit.

Di dalam suatu keluarga terdapat penyakit yang aneh. Walau telah berobat kemana-mana penyakit belum juga baik. Maka timbullah niat melakukan Erpangir Ku Lau dengan harapan penyakit tersebut sembuh.

.

Erpangir karena ingin mendapat rezeki. 

.

Erpangir karena telah mendapat rezeki.

.

 Erpangir untuk membuang Kengalen.

Dalam perasaan seseorang ada hal-hal yang kurang baik sebagai akibat keinginan tidak terkabul dan hal itu selalu menjadi hambatan dalam hal- hal tertentu. Misalnya seorang gadis yang usianya telah agak lanjut tapi belum kawin.

.

Erpangir untuk Petampe Jinujung.

Seseorang yang selalu terganggu oleh roh, menurut keterangan dukun roh tersebut harus dihormati dan dihargai oleh orang tersebut. Maka dengan bantuan dukun dilakukan Erpangir Ku Lau agar rokh tersebut mengikutinya dan tidak lagi mengganggu.

.

Bahan – bahan Untuk Erpangir.

  • Jeruk (rimo) terdiri dari 11 jenis yaitu : rimo mungkur, rimo kejaren, rimo puraga, rimo kelele, rimo keling, rimo manis, rimo malem, rimo jungga, rimo bunga, rimo kayu, rimo gawang.
  • Bulung-bulung Simelias Gelar terdiri dari : lak-lak galuh Sitabar, Besi- besi, Sangke Sempilet, Belo Bujur(sirih dan kawannya), Belo Cawir (sirih + pinang), Belo Baja Minak (sirih + minyak baja/kayu).
  • Galuh Siemas (Pisang Emas) dilengkapi dengan Cimpa (semacam lepat) dengan jenis : cimpa pustaka, cimpa rambe-rambe dan cimpa lepat.
  • Seekor ayam hitam.
  • Mumbang.

Pelaksanaan Erpangir Ku Lau ada yang dipandu oleh dukun, ada juga si pelaku melaksanakan sendiri. Erpangir Ku Lau dipandu oleh dukun, kegiatannya ialah sebagai berikut:

Pagi-pagi sekitar pukul 09.00 si pelaku Erpangir bersama keluarga dan Sangkep Sitelu berangkat ke sebuah sungai dengan beriring didahului dukun membawa peralatan berbagai jenis jeruk dan bulung-bulung simelias gelar. Sedangkan ayam hitam dan cimpa tinggal di rumah sedang dikerjakan oleh sebagian keluarga

Tiba di sungai dipilih suatu tempat yang baik. Di tempat tersebut diatur oleh dukun kegiatan yang hadir. Dukun meletakkan belo (sirih) sebagai persemba­han bagi kekuatan penunggu sungai. Setelah itu semua jenis jeruk dibelah-belah demikian juga bulung-bulung simelias gelar dipotong-potong. Dimasukkan ke dalam Gantang Beru-beru (terbuat dari bambu). Ramuan itu dilengkapi lagi dengan sedikit garam campur lada dan kunyit. Campuran dalam Gantang Beru- Beru diaduk, sedang Jeruk dipijit-pijit agar airnya keluar.

Si pelaku Erpangir masing-masing menyiram air jeruk tersebut ke bagian kepala (seperti kramas), juga ke bagian tubuh sewaktu mandi membersihkan diri. Setelah selesai, mereka mengganti pakaian yang basah tadi dengan pakaian yang bersih lalu berangkat pulang ke rumah.

Setiba di rumah mereka duduk teratur sesuai dengan petunjuk dukun. Kemudian dukun menanyakan si pelaku Erpangir makanan apa yang diinginkannya diantara makanan yang telah disediakan. Si pelaku Erpangir minta daging ayam, cimpa dan minuman air mumbang, dilayani dengan baik. Seterusnya mereka dan si pelaku Erpangir makan bersama.

Sekiranya Erpangir Ku Lau itu bertujuan Petampe Jinujung, maka dukun berdendang memanggil roh yang bakal mengikutinya. Biasanya si pelaku Erpangir dirasuki roh badannya bergetar dan tidak sadar bertindak aneh seakan-akan orang teler (mabuk). Sementara itu dukun memuja serta mengikuti kemauan si pelaku dan akhirnya dukun menentramkannya. Maka roh tersebut tetampe (mengikuti) si pelaku dan setelah itu tidak mustahil si pelaku menjadi seorang dukun pula.

*) Diangkat dari Buku Pilar Budaya Karo (Sempa Sitepu, Bujur Sitepu, AG. Sitepu)

——————————————

© Mejuahjuah.id /CATATAN : Setiap konten di website Mejuahjuah.id memiliki hak cipta. Jika ingin mengutip sebagian ataupun seluruh isi dari setiap artikel dalam website ini harap menghubungi kami atau memberikan asal sumber kutipan dari Mejuahjuah.id.
Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *