Palas Si Pitu Ruang

Palas Si Pitu Ruang Mejuahjuah.id I Ensiklopedia Karo

Zaman Dahulu ada seorang Raja yang bernama Raja Sembahen yang tinggal di Desa Ajinembah. Sesuai dengan tulisan kuno dan cerita turun temurun. Raja tersebut ada mempunyai seorang putri/ gadis yang bernama Buaten Beru Ginting Munte yang terkenal berparas cantik, bertingkah laku dan tutur kata yang sangat baik.

Telah beberapa kali pihak saudara perempuan (Anak Beru) dari Raja Sembahen datang ke rumah Raja mengantar dan membawa makanan dari hasil ladang yang dipanen yang berminat untuk meminang menjadi menantu atau  istri jika Buaten Beru Ginting Munte dan orang tua menyetujuinya setelah selesai makan maka Raja Sembahen selalu menanyakan pihak saudara perempuan yang datang.

“Apa maksud lain atas kedatangan kalian selain daripada membawa hasil ladang  Yang baru panen?” dan terus dijawab oleh pihak saudara perempuanya,” mengatakan baru selesai panen padi, serta tahun ini hasil panen padi cukup bagus” dimana pihak saudara perempuan tersebut  tidak berani lagi menyampaikan isi hatinya yang sebenarnya, sebab menurutnya tidak pantas lagi  meminang BUATEN BERU GINTING MUNTE setelah melihat kecantikan dan kebaikanya.

Akhirnya sampailah berita kepada Raja Umang bahwa di Desa Ajinembah ada Putri Raja Sembahen yang sangat cantik dan bertingkah laku serta bertutur yang baik pula. Raja Umang terus berniat untuk meminang Buaten Beru Ginting Munte menjadi istrinya, sehingga dia menyampaikan niatnya melalui saudara perempuan (Anak Beru) Raja Sembahen , bahwa jika ada persetujuan dari keluarganya serta BUATEN BERU GINTING MUNTE Raja Umang mengawini Putri Raja Sembahen yang bernama BUAT BERU GINTING MUNTE.

Kemudian pihak saudara perempuan (Anak Beru) Marga Ginting menyampaikan pesan Raja Umang kepada Raja Sembahen dan keluarganya serta saudara sepupunya yang tidak ketinggalan juga kepada Buaten Beru Ginting Munte sendiri. Setelah sampai pesan dari Raja Umang maka Raja mencapai kesepakatan dan Buaten Beru Ginting Munte menerima keinginan Raja Umang dengan persyaratan membuat sesuatu barang yang ganjil sebagai pengganti mas kawin dengan Buaten Beru Ginting Munte.

Keluarga Merga Ginting telah sepakat bahwa Marga Ginting bukan mengejar Mas Kuning,  Suasa Merah atau Perak Putih. Kesepakatan tersebut disampaikan pihak saudara perempuan (Anak Beru) Marga Ginting kepada yang hendak mengawini Buatan Beru Ginting Munte yaitu Raja Umang.

Raja Umang mengatakan agar diadakan pertemuan di rumah Marga Ginting” begitu diinginkan begitu yang didapat, mendapatkan karunia dan rejeki” . Rencana kami pun sudah ada jika mendapat kesepakatan dengan Marga Ginting dan pihak saudara perempuanya (Anak Beru). Keinginan kami membuat satu rumah besar untuk tempat tinggal keluarga Marga Ginting, rumah yang belum pernah ada dibawah Langit dan diatas Bumi, yaitu RUMAH SI PITU RUANG .

Kemudian pembicaraan Raja Umang tersebut disampaikan pihak saudara perempuan Raja Sembahen (Anak beru). Pada pertemuan Marga Ginting  dengan sepupunya serta pembicaraan tersebut juga disampaikan Marga Ginting kepada Raja Sembahen. Atas penyampaian Raja Umang tersebut maka Raja Sembahen bermusyawarah dengan seluruh keluarga sepupunya yang akhirnya menyetujui keinginan Raja Umang.” Kalo betul yang disampaikan  kepada kami Maraga Ginting dan seluruh keluarga, maka kami pun telah setuju serta diteruskan pelaksanaanya”. “ menurut kami pun telah benar barang ganjil dalam benar apa yang disampaikan kepada kami Marga Ginting dan sepupunya dan kesepakatan ini agar disampaikan kepada Raja Umang.

Setelah sepakat dengan Raja Umang yang hendak mengawini Buaten Beru Ginting Munte maka Raja Umang meminta kepada pihak saudara perempuan Anak beru  agar Marga Ginting mengumumkan kepada seluruh keluarga di Ajinembah agar menyedikan beras unutk makanan, kayu api untuk masak dan air minum untuk 7 Hari 7 Malam selama pembuatan Rumah Si Pitu Ruang, sebab membuatnya harus gelap 7 Hari 7 Malam sampai selesai.” Kata tukang yang disuruh Raja Umang kemudian. Diumukan sesuai dengan permintaan Raja Umang yang hendakmmengawini  Buaten Beru Ginting Munte.

Hari mulai gelap kabut yang tebal selam 7 Hari 7 Malam kedengaran suara yang ramai dari arah Barat dan Timur Desa Ajinembah, ada kedengaran suara menarik kayu, suara memotong kayu dan bermacam-macam suara kedengaran sampai selesai Rumah Si Pitu Ruang, setelah selesai maka hari mulai terang dan embun telah hilang. Semua orang heran melihat Rumah Si Pitu Ruang tersebut, sebab bentuk dan letaknya sangat berbeda dengan rumah biasa yang telah ada di bawah Langit dan diatas Bumi ini.

Kemudian Raja Umang berkata kepada saudara pihak perempuan (Anak Beru) Marga Ginting, agar diadakan pertemuan guna membicarakan bahwa RumaH Si Pitu Ruang telah selesai dan telah dapat di pestakan untuk dimasuki setelah memilih hari dan bulan yang baik, maka disepakati menunggu selama 21 Hari lagi.

Pendek cerita sampailah pada hari pesta memasuki rumah tersebut dan telah datang seluruh kelurga yang dekat dan yang jauh berkumpul di Desa Ajinembah. Telah berlangsung sebulan lamanya para tamu yang laki-laki dan perempuan tidak dapat pulang, naik dari tangga depan turun dari tangga belakang tanpa berhenti sehingga para tamu telah lupa terhadap peliharanya diladang, Ayam di rumah dan seluruh harta benda miliknya, seperti para tamu telah hilang ingatan (linglung). Tak henti-hentinya padi ditumbuk dan telah banyak beras habis dimasak untuk makan para tamu dan telah banyak kerbau dipotong untuk lauk, sampai-sampai kerbau kesayangan Raja Sembahen yang bernama Si Dampar Tenduk sudah dipotong untuk para tamu yang tidak pulang.

Akhirnya datanglah bantuan Raja dari Barus yang memberikan obat ramuan kepada para tamu, sehingga para tamu telah dapat pulang ketempat tinggalnya, telah diingatnya hewan peliharaanya tidak di bawa ke kandang, Ayam tidak di beri makan dan harta lainnya telah berantakaan karena lama tidak dapat kembali ke tempat tinggalnya.

Setelah para tamu kembali ke tempat tinggalnya,  Raja Sembahen berkumpul dengan seluruh kelurga dan sepupunya dan memberikan nasehat dan petuah dan juga termasuk kepada kita, agar semua Marga Ginting dan keturunanya harus saling menyayangi dengan seluruh keluarga dan sepupunya. Berat Sama Dipikul Ringan Sama di Jingjing.

Sampai saat ini PALAS (TIANG/LANDASAN) RUMAH SI PITU RUANG tersebut masih lengkap dan berdiri  pada tempat semula di Desa Ajinembah, serta jumlah PALAS (TIANG/LANDASAN) tersebut adalah 16 buah.

Ajinembah, 01 September 2002

Penulis

Nganjung/Nganjungken Ginting Munte

Foto oleh Junlesi Ginting (Berastagi)

© Mejuahjuah.id /CATATAN : Setiap konten di website Mejuahjuah.id memiliki hak cipta. Jika ingin mengutip sebagian ataupun seluruh isi dari setiap artikel dalam website ini harap menghubungi kami atau memberikan asal sumber kutipan dari Mejuahjuah.id.
Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *