Pawang Ternalem

Pawang Ternalem Mejuahjuah.id I Ensiklopedia Karo

Mejuahjuah.id – Cerita Pawang Ternalem bermula di satu kampung di Tanah Karo. Kampung itu bernama Liang Melas, kampung yang didirikan oleh merga Sembiring Kembaren. Kelahirannya justru menjadi kematian bagi kedua orang tuanya. Empat hari setelah dia dilahirkan Bapanya meninggal. Lalu Empat hari kemudian tepatnya di hari kedelapan menyusul ibunya yang meninggal.

Kematian kedua orang tuanya dalam waktu seminggu, membuat pergunjingan dan ketakutan di kampung itu. Kata tua-tua kampung, kalau anak yang lahir dan menjadi penyebab kematian kedua orang tuanya, anak itu adalah Tendi Nunda atau Tunda Kais, yang artinya si pembawa sial!

Tidak ada yang berani mendekati bayi kecil itu. Hanya bibinya, adik dari bapanya yang berani menggendongnya. Bibi anak itu bernama Menda Beru Sembiring Kembaren. Dia ingin  membesarkan keponakannya itu. Namun orang-orang kampung marah. Mereka tidak mau bayi kecil tumbuh dan besar lalu menyebabkan bencana di kampung itu.  

Seorang dukun terkenal yang biasa disebut Guru Sibaso mencoba mengancam Menda. Kalau sampai Menda membesarkan anak tunda kais itu maka dia akan diusir dari kampung itu. Mereka meminta Menda untuk membawa pergi bayi itu kemudian membuangnya diluar kampung. Menda sangat ketakutan, dia tidak membantah. Dengan menangis dia menggendong keponakannya menuju perbatasan kampung. Sesampai disana diletakkannyalah bayi itu di jalan.

Tiga malam berselang, bayi itu tetap di tempat itu. Dia tampak sehat tidak sakit sama sekali. Kerbau-kerbau yang melewati anak itu tidak memijaknya. Malah hewan-hewan itu menghindarinya. Ular-ular yang lewat di dekat bayi itu hanya menatapnya. Hewan melata itu tahu bahwa anak itu bukanlah makanan mereka.

Anak-anak kampung terkejut ketika mereka melihat anak itu belum mati. Dengan marah mereka membawanya kembali ke kampung. Mereka lalu melemparkannya ke bawah kolong rumah adat. Disana babi-babi peliharan kampung sudah menunggunya. Mereka berharap babi-babi itu akan memakannya.  Menda hanya menatap sedih dari kejauhan

Dalam kolong rumah itu anak itu tidak pernah mati. Babi-babi itu tidak pernah memakannya, mereka menyusuinya. Hewan-hewan itu sangat sayang padanya bahkan menganggap anak mereka sendiri. Di waktu malam mereka tidur bersama. Di waktu siang mereka bermain bersama. Anak itu tumbuh menjadi besar. Lalu dia pergi ke hutan dan melanjutkan hidupnya disana.

***

Dua puluh tahun kemudian. Waktu itu Menda baru selesai mengambil air dari pancuran. Ada suara yang memanggilnya dengan kata ‘bibi’. Dia menoleh ke belakang. Seorang pemuda berdiri dibelakangnya. Sebelumnya dia tidak pernah berjumpa dengan pemuda itu.

Pemuda itu mencoba menyapanya lagi. Dia memanggil Menda bibi. Dia coba jelaskan kalau dialah keponakannya yang dibuang dulu. Dia belum mati. Dia jelaskan hewan-hewan itu yang membesarkannya. Lalu dikatakannya kalau dia tahu Menda adalah bibinya dari  cerita anak-anak kampung yang sering pergi ke hutan.

Menda sangat terkejut. Dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan keponakannya itu. Waktu dia tidak melihat lagi bayi itu di kolong rumah adat bersama babi-babi itu, dia yakin keponakannya itu sudah mati. Namun ternyata dia masih hidup.

Rupanya kehadiran pemuda itu sudah tersiar ke seluruh kampung. Mereka langsung mendapati bibi dan keponakannya itu. Mereka semua marah. Terutama Guru Sibaso yang dulu ingin membunuh anak itu.

“Kenapa kam tidak bilang kalau anak ini hidup bersamamu?”, kata nenek tua itu. Menda mencoba membela diri. Dia katakan kalau dia sebetulnya sudah menganggap keponakannya itu sudah mati. Namun ternyata dia dibesarkan di hutan bersama hewan-hewan itu.

Guru Sibaso mendekati pemuda itu. Dengan marah dia mengusir pemuda itu. Dia menyalahkan pemuda itu adalah pembawa sial  yang menjadi penyebab kampung itu tidak pernah maju-maju selama ini.  Rupanya ada anak Tunda Kais yang hadir diantara mereka.

Menda tak bisa menahan. Pemuda itu berjalan pergi dengan menangis sedih. Menda mencoba menghiburnya namun pemuda itu malah menenangkan bibinya. Lalu dia mengucapkan kalimat perpisahan. Pemuda pembawa sial itu pergi dan tak kembali lagi ke kampung itu sampai akhir hayatnya.

***

Yang dibawanya hanyalah surdam, alat musik Karo yang berbentuk seruling. Surdam itu dibuatnya sewaktu tinggal di hutan. Dia pintar memainkannya karena suara Surdam selalu mengingatkannya pada kepahitan hidup. 

Beberapa orang Perlanja Sira, pedagang garam kebetulan melintasi tempat itu. Mereka terhenyak  mendengar suara surdam itu. Mereka memperhatikan anak muda itu bermain surdam sambil berdecak kagum. Mereka memuji permainan surdam pemuda itu

Lalu pemuda itu bertanya mau kemanakah gerangan Perlaja Sira itu pergi. Kenapa tanya Perlanja Sira itu. Dia mau ikut kemanapun mereka pergi. Akhirnya para Perlanja Sira itu menyetujui untuk dia ikut. Mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Tiga hari tiga malam mereka terus berjalan. Mereka hanya berhenti sesekali untuk melepas lelah. Pemuda itu berusaha mengikuti walau terkadang dia tak lagi mampu. Dia melihat para Perlanja Sira itu adalah orang yang sangat berpengalaman dan terbiasa berjalan jauh. Hingga akhirnya mereka tiba di tengah hutan. Mereka berhenti untuk melepas lelah. Dengan agak sungkan pemuda itu meminta untuk tidur sejenak karena sudah tidak kuat lagi. Perlanja Sira itu menyetujuinya namun diantara mereka terjadi percakapan.

Mereka curiga dengan pemuda itu. Mereka sudah mendengar siapa sebenarnya pemuda itu. Itu sebabnya kehadiran pemuda itu menjadi beban bagi Perlanja Sira itu.

“Siapa kau yang berbicara disana!”

Suara menggelegar memecah pembicaran Perlanja Sira itu.  Mereka ketakutan lalu segera menyiapkan percibalen persembahan yang selalu mereka siapkan saat melintasi tempat-tempat angker. Mereka menyembah dengan sesajen itu. Namun mereka tetap takut. Lalu mereka pergi dan meninggalkan pemuda itu sendirian.

Pemuda itu tidak sadar dia sudah ditinggalkan. Suara langkah terdengar mendekati tempat itu. Dia seorang tua berambut putih, berpakaian putih-putih dan memakai tongkat. Awalnya dia senang melihat percibalen yang dibuat Perlanja Sira itu. Tapi dia sangat terkejut ketika dia melihat seseorang sedang tidur tak jauh dari situ

“Siapa kau?” tanya orang tua itu.     

Mendengar suara yang keras itu pemuda itu pun terbangun. Dia sangat terkejut melihat orang yang berdiri dihadapannya. Dia sadar orang tua ini bukan orang sembarangan. Bagaimanapun juga dia tidak akan bisa lari. Dia harus menghadapinya.

Pemuda itu minta maaf kalau dia telah tidur di tempat sembarangan. Lalu Orang tua itu bertanya kenapa pemuda itu ada disana. Pemuda itu menjelaskan semuanya. Semua kisah yang diceritakan oleh pemuda itu membuatnya kakek tua itu tertarik. Dia langsung memegang tangan pemuda itu dan membaca guratan garis di telapak tangannya. Lalu dia mengajak pemuda itu untuk mengikutinya.

“Mari ikut aku! Kam bukan anak pembawa sial!“ kata orang tua itu.

Pemuda itu heran dengan apa yang dikatakan orang tua itu. Rasa penasarannya membuatnya mengikuti orang tua itu. Siapa tahu ada kesempatan untuk hidup lebih baik kalau aku ikut dengannya, pikirnya.

Dialah Datuk Rubia Gande. Gelar Datuk di Langkat sama seperti guru atau dukun di Tanah Karo. Seluruh Langkat kenal dengan Datuk Rubia Gande. Dia sangat disegani. Belum ada yang bisa menandinginya di seluruh daratan Langkat. Datuk Rubia Gande adalah seorang bermerga Sembiring. Dia tinggal di Batang Serangan.

Mereka terus berjalan menembus gelapnya hutan dan kemudian mulai menaiki perbukitan. Sebuah rumah adat Karo berukuran tidak terlalu besar berdiri diatas bukit itu. Terdengar sayup-sayup suara perempuan menyanyi nuri-nuri dari arah rumah itu. Seorang wanita sedang duduk di atas tikar. Wanita itu berambut panjang. Wajahnya nyaris tidak terlihat. Dialah yang menyanyi nuri-nuri

“Itu anakku Tulang Kelambir Gading,” kata Datuk Rubia Gande.

Lalu Datuk Rubia Gande memperkenalkan pemuda itu kepada Tulak Kelambir Gading. Secara tutur Tulak Kelambir Gading memanggil pemuda itu permain (keponakan) karena sama-sama bermerga Sembiring.

Sambutan hangat dari Tulak Kelambir Gading membuat pemuda itu mulai merasa nyaman. Apalagi setelah Tulak Kelambir Gading menghidangkan makan malam.

Dari kejauhan terdengar suara gendang kecil dipukul berirama. Pong! Pong! Suaranya terdengar bertalu-talu. Suara itu semakin lama semakin dekat.

Namanya Dara. Dia bermerga Perangin-angin bebere Ginting asal kampungnya dari Jenggi Kemawar. Karena tingkahnya agak lucu kehadiran Dara disambut hangat dan langsung mencairkan suasana walau sebelumnya mereka tidak pernah bertemu.

“Ada berita yang aku bawa Bulang. Anak Pengulu Jenggi Kemawar si Beru Patimar sedang sakit keras. Tidak ada Guru atau orang hebat yang bisa mengobatinya. Menurut kabar hanya madu dari pokok Tualang Si Mande Angin yang bisa mengobatinya. Pohon itu ada di Jenggi Kemawar. Tapi pohon itu sangat keramat. Tidak ada satu orang Pawang pun yang bisa memanjatnya. Siapa mau mencoba memanjatnya maka hidupnya tidak akan bertahan lama. Itu sebabnya Pengulu mencari orang yang bisa memanjat pohon itu dan mengambil madunya agar bisa mengobati Beru Patimar.”

“Siapa yang bisa mengambil madu diatas Tualang Si Mande Angin dialah yang diijinkan Pengulu untuk menjadi suami Beru Patimar itu. Begitulah sayembara yang dibuat Pengulu Jenggi Kemawar itu bulang.”

Datuk Rubia Gande dan Tulak Kelambir Gading saling melirik. Lirikan itu mengandung makna. Sebelum Dara menjelaskan mereka sudah tahu apa maksud pemuda itu datang. Mereka menyimpan sesuatu rahasia.

Dara mohon diri karena harus ke kampung lain untuk menyampaikan pesan. Setelah Dara pergi Datuk Rubia Gande mengajak Tulak Kelambir Gading untuk mengobrol. “Aku tidak suka dengan kesombongan Putri Jenggi Kemawar itu bapa. Dia harus merasakan akibat dari perbuatannya,” kata Tulang Kelambir Ganding .

”Sudah datang orang yang akan menjadi Pawang dari kampung kita ini. Pemuda itu akan  kita beri dengan nama Ternalem. Suatu saat akan disebut dengan gelar Pawang Ternalem. Pawang yang bisa membuat Beru Patimar malem.”

Tulak Kelambir Gading anak Datuk Rubia Gande itu adalah sosok misterius. Dia tidak banyak bicara.  Sosoknya menyeramkan dan dia juga punya ilmu kesaktian. Dia adalah penunggu pohon Tualang Si Mande Angin di Jenggi Kemawar. Sehari-hari dia mbayu menganyam tikar di atas pohon itu. Kebenciannya pada Beru Patimar yang sombong karena kecantikannya itu membuat Tulak Kelambir Gading mengguna-gunai gadis itu dengan penyakit yang tidak tersembuhkan.

Berhari-hari, berbulan-bulan, dengan sabar Datuk Rubia Gande mengajarkan Ternalem ilmu kesaktian. Yang diajarkannya terutama ilmu Pawang. Sebuah ilmu perpaduan antara olahan jiwa, kekebalan dan meringankan tubuh.   

Suatu sore di sebuah Sapo yang tak jauh dari rumahnya Datuk Rubia Gande mengajak Pawang Ternalem untuk berbicara.

“Aku sudah berikan ilmu kesaktian seorang pawang. Kam harus berangkat kesana cucuku Ternalem. Kam harus buktikan kalau ilmu yang pernah kuberikan tidak sia-sia. Kam harus mengambil madu dari Tualang Si Mande Angin itu dan mengobati si Beru Patimar. Gadis itu harus disembuhkan nakku.”

Pawang Ternalem mengangguk. Sedikitpun dia tidak membantah perkataan Datuk Rubia Gande. Lalu mereka menyiapkan diri.

***

Jenggi Kemawar adalah salah satu kampung yang paling indah di tanah Langkat. Namun setelah Beru Patimar Putri Pengulu kampung Jenggi Kemawar mendapat sakit kampung itu tidak semeriah dulu. Tidak ada yang menyangka gadis itu mendapat sakit berat. Konon penyakit itu didapat karena ulah dari kesombongan si Beru Patimar yang cantik jelita itu.

Banyak yang tidak menyukai Beru Patimar. Kecantikannya terdengar ke seluruh Langkat hingga Tanah Karo. Banyak pria yang memujanya. Tidak sedikit yang melamarnya baik itu para pangeran dari kerajaan tetangga, saudagar-saudagar terpandang hingga duda-duda kaya. Namun tak seorang pun memikat hatinya. Mereka semua yang datang harus pulang dengan patah hati. Beru Patimar menganggap mereka semua tidak pantas untuknya.

Perlakuannya terhadap para lelaki itu pula yang membuat banyak orang tidak suka. Hingga akhirnya dia sendiri menderita penyakit aneh. Banyak tabib dan guru didatangkan. Mulai dari Samudera Pasai hingga kerajaan Johor. Namun tak satupun bisa menyembuhkannya. Mereka selalu berkata kalau obatnya adalah madu dari pohon Tualang si Mande Angin yang berdiri tegak dipinggir kuta.

Tualang si Mande Angin adalah pohon raksasa dan keramat. Pohon ini tingginya nyaris lima kali keliling kuta Jenggi Kemawar. Sehingga puncaknya hampir tidak terlihat. Disitulah banyak lebah bersarang. Madu lebah inilah yang konon yang menjadi obat penawar penyakit Beru Patimar.

Konon katanya pohon itu ada penunggunya. Namun tak seorang pun bisa menjelaskan siapa penunggu pohon itu. Guru atau dukun manapun tak bisa melihatnya. Tapi mereka hanya tahu ada seseorang yang maha sakti berdiam di pohon itu.  Di malam menjelang bulan purnama biasanya terdengar suara wanita menyanyi Nuri-nuri dari atas. Tidak ada yang bisa melihat siapa yang menyanyi di ujung sana. Menurut kepercayaan orang Melayu yang kampungnya bertetangga dengan orang Karo yang diatas itu ada Kuntilanak penunggu pohon.

Sudah tujuh keliling tengkorak yang mengelilingi pohon itu. Semua tengkorak Pawang-pawang itu ditancapkan ke badan pohon dengan upacara adat.

Pengulu Jenggi Kemawar bermerga Sitepu itu tetap optimis. Dia yakin pasti ada orang yang sanggup dan mampu untuk mengambil madu di pohon itu. Itulah sebabnya dia membuka sayembara besar.

BARANG SIAPA YANG BISA MENGAMBIL MADU DI POHON TUALANG SI MANDE ANGIN YANG BISA MENYEMBUHKAN BERU PATIMAR MAKA DIA BERHAK MENGAWININYA.

Sayembara itu disebarkan ke seluruh pelosok negeri. Banyak orang kampung dilibatkan untuk menyampaikan berita itu. Termasuk Dara yang pernah datang ke Batang Serangan kampung Datuk Rubia Gande.

Sore itu seorang pemuda sampai di kampung itu. Dalam perjalanannya dia terus mengikuti sehelai bulu ayam yang diterbangkan Gurunya dari kampungnya Batang Serangan. Pesan Gurunya dimana bulu ayam itu jatuh maka disitu pula kau sudah berpijak di tanah kampung Jenggi Kemawar.

Pawang Ternalem melangkah memasuki kuta. Dia melihat beberapa gadis sedang menumbuk padi di lesung, beberapa diantara mereka juga ada yang menampi beras. Dia mencoba mendekati para gadis itu.

Dia bertanya apakah kampung ini bernama Jenggi Kemawar? Para gadis itu menoleh dan langsung terkejut. Mereka ketakutan melihat wajah dari Pawang Ternalem yang sudah berubah. Mereka mengira dia adalah begu. Dengan cepat mereka melarikan diri.

Sebelumnya di Batang Serangan Datuk Rubia Gande sudah merubah wajah dan karakter Pawang Ternalem. Alasannya agar bibinya Tulak Kelambir Gading mengenalinya setiba di Jenggi Kemawar. Pawang Ternalem tidak banyak bertanya dia hanya menuruti perintah sang  Guru.

Seorang pemuda berbadan kate berjalan kearahnya. Dia adalah Dara yang dulu pernah ke kampung Datuk Rubia Gande di Batang Serangan. Dia tidak mengenali Pawang Ternalem.

“Siapa kau?!” kata pemuda itu.

Pawang Ternalem bertanya apakah ini kuta Jenggi Kemawar. Lalu pemuda itu bertanya apa keperluannya datang ke kampungnya ini. Mereka bertutur untuk saling mengenali satu sama lain. Setelah bertutur maka sadarlah mereka kalau mereka pernah bertemu sebelumnya. Akhirnya mereka tersadar dimana pernah berjumpa.

Pawang Ternalem menjelaskan maksudnya datang ke Jenggi Kemawar. Dia ingin menaklukkan pohon Tualang Si Mande Angin. Dara sangat terkejut mendengar keinginan Pawang Ternalem itu. Dara lalu mengajak Pawang Ternalem ke rumahnya.

***

Di teras rumahnya Beru Patimar sedang bercakap-cakap dengan dayang-dayangnya.  Para dayang itu selalu mencoba menghibur Beru Patimar. Mereka selalu mengungkapkan harapan kalau suatu saat nanti pasti ada Pawang yang berhasil untuk memanjat Tualang Si Mande Angin itu.

Dari kejauhan Dara dan Pawang Ternalem mengamati Beru Patimar dan dayang-dayangnya.

“Itulah Beru Patimar,’ kata Dara.

Pawang Ternalem mengakui betapa cantiknya memang gadis itu. Lalu Dara mengajak Pawang Ternalem untuk berkenalan dengan Beru Patimar. Namun Pawang Ternalem gugup dan menolaknya. Tapi Dara tetap saja tidak peduli.

Dia menyapa Beru Patimar dan gadis itu menyambutnya. Lalu Dara memperkenalkan Pawang Ternalem kepada Beru Patimar. Wajah Beru Patimar langsung berubah. Wajahnya sangat terkejut melihat Ternalem. Ternalem berusaha untuk percaya diri. Dia memperkenalkan dirinya. Beru Patimar tidak tahu menjawab apa. Dia katakan kepada Dara, kenapa dia memperkenalkan Begu kepadanya. Dara mencoba menjelaskan tentang Pawang Ternalem. Tapi gadis itu tidak mau menerima. Dia katakan dengan marah kalau dia hanya mau diperkenalkan dengan manusia bukan dengan Begu itu. Dia mengusir Pawang Ternalem. Dara mencoba menghibur Pawang Ternalem. Namun Pawang Ternalem tetap meyakinkan Dara kalau dia tidak apa-apa.

Tiba-tiba saja Datuk Rubia Gande muncul di sebelah Pawang Ternalem. Dia sangat terkejut melihat kehadiran Gurunya itu. Walau Pawang Ternalem bisa melihat Datuk Rubia Gande namun Dara tidak bisa melihat apa-apa.

“Jangan kam menyerah kempu. Seperti yang pernah bulang bilang sama kam, perempuan itu pasti menghinandu. Itu makanya bulang rubah kam jadi seperti ini. Inilah awal dari segalanya. Kam harus merubah takdirndu. Sembuhkan gadis itu. Bibindu Tulak Kelambir Gading sudah menunggun kam.”

Sebelum Ternalem sempat berkata-kata, tiba-tiba saja Datuk Rubia Gande sudah menghilang. Dara heran dan bertanya. Tapi Pawang Ternalem diam saja dan mengajaknya pulang.

***

Di depan rumahnya Pengulu dan istrinya Kemberan sedang termenung. Wajah keduanya diliputi kesedihan. Mereka sudah capek dan kasihan melihat keadaan Putri mereka Beru Patimar. Mereka tidak habis pikir kenapa tidak orang yang bisa menyembuhkan Putri Mereka itu. Kalaulah obatnya di pokok Tualang Si Mande Angin itu, kenapa pula tidak ada orang yang bisa memanjat pohon itu. Mereka hampir putus asa.

Penasehat kerajaan Jenggi Kemawar bergegas mendatangi rumah Pengulu. Dia ingin menyampaikan pesan dari seorang Guru sakti Jenggi Kemawar. Tadi malam Guru itu mendapat penglihatan dari mimpinya. Menurut Guru itu tidak lama lagi ada seorang Pawang yang akan mengambil madu itu. Dia berhasil memanjat pohon Tualang si Mande Angin itu. Bahkan Pawang itu sudah ada di kampung ini. Mereka bertanya-tanya siapa Pawang yang akan berhasil itu.

***

Malam itu Pawang Ternalem dan Dara mendatangi Tualang Si Mande Angin. Pohon itu terlihat menyeramkan.  Dara mulai gugup dan gemetar.  Dia sangsi kalau Pawang Ternalem mampu memanjat pohon itu. Namun Pemuda itu mencoba meyakinkan Dara kalau dia tidak akan apa-apa.

Dengan percaya diri Pawang Ternalem mendekati pohon itu. Dia sudah menyiapkan perlengkapan untuk memanjat. Perlahan dia mulai memanjat pohon itu. Awalnya tidak ada apa-apa.

Rushhhhh…..!!!

Sebuah kekuatan besar menekannya dari atas. Ternalem terkejut lalu dia terjatuh. Untung dia tidak apa-apa. Dara menyambutnya dan khawatir. Namun Pawang Ternalem mengatakan kalau dia baik-baik saja. Mereka meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba muncul lagi Datuk Rubia Gande. Dia memperingatkan Pawang Ternalem agar sebelum naik keatas pohon dia harus bertutur dulu dengan penunggu pohon itu. Barulah Pawang Ternelem mengerti apa maksud gurunya itu. Mereka lalu pergi dari tempat itu

***

Besoknya mereka kembali lagi. Malam ini Pawang Ternalem semakin yakin dia dapat memanjat pohon itu. Dia percaya diri. Lalu dia siapkan perlengkapannya dan mulai memanjat. Sesampai di tengah-tengah dia berhenti. Dia lalu melihat keatas.

“O Bibi beru Sembiring. Ini permenndu Ternalem!”

Tidak ada jawaban.

Pemuda itu berteriak lagi. Dia menambahkan kalau dia membawa pesan dari Datuk Rubia Gande. Tiba-tiba dari atas pohon itu turun seorang wanita sambil menganyam tikar. Dia terbang mendekati Ternalem. Dialah Tulak Kelambir Gading penunggu pohon Tualang Si Mande Angin.

Pawang Ternalem sangat senang karena bertemu dengan bibinya itu. Mereka bercakap-cakap sebentar. Lalu Tulak Kelambir Gading mengajak Pawang Ternalem untuk memanjat keatas.

Sebelum naik keatas Pawang Ternalem berkata, “Bapa…Nande… Aku tidak pernah menyesal dilahirkan sebatang kara seperti ini. Walau penuh sengsara dan derita. Tapi malam ini aku mohonkan satu permintaan padamu. Ijinkan aku untuk mendapatkan sebuah kehormatan.”

Dia naik keatas. Tak lama kemudian terdengar suara surdam dari atas pohon itu. Pawang Ternalem meniup surdam itu. Suara surdam itu terdengar ke seluruh Jenggi Kemawar. Dara sangat terkejut. Dia senang karena tahu Pawang Ternalem sudah sampai ke puncak pohon itu.  Orang-orang kampung mulai berdatangan. Mereka bertanya-tanya siapa yang meniup surdam dari atas pohon itu.

Seorang tua-tua kampung mendatangi rumah Pengulu. Dia memanggil Beru Patimar agar keluar dari rumah. Mendengar orang-orang berteriak dari luar rumahnya, gadis itu langsung keluar. Tapi saat dia keluar suara surdam itu berhenti.

Beru Patimar langsung marah pada orang yang membangunkannya tidur. Dia menganggap wanita itu membohonginya. Wanita yang dipanggilnya Nondong itu mencoba membela diri. Dia mengatakan baru saja memang ada suara surdam dari atas pohon itu. Berarti ada orang yang berhasil memanjat pohon itu. Orang itulah yang akan menjadi suami Beru Patimar. Untuk itu dia harus membangunkan gadis itu. Beru Patimar tidak percaya. Lalu dia masuk lagi kedalam rumahnya.

Sementara itu di dekat Tualang Si Mande Angin Dara masih saja berteriak kegirangan. Penasehat Pengulu yang kebetulan datang ke tempat itu mendatangi Dara. Dia bertanya siapa yang diatas pohon itu. Dara menjawab dengan senang, Pawang Ternalem seninanya itulah yang diatas pohon itu.  

Tiba-tiba suara surdam terdengar lagi. Nondong yang masih berada di depan rumah Beru Patimar kembali berteriak memanggil Beru Patimar. Kali ini dia yakin Gadis itu akan mendengar suara surdam itu. Dia akan membuktikan ucapannya tidak salah. Tidak lama kemudian Beru Patimar keluar.  Dia keluar rumah bersama kedua orang tuanya.

Suara surdam itu menghilang. Semuanya saling berpadangan heran. Beru Patimar sangat marah.  Dia merasa dibohongi. Dia lalu turun dari rumahnya dan mengambil sebatang kayu yang kebetulan tergeletak tidak jauh dari situ. Dipukulnya Nondong dengan kayu itu. Nenek tua berteriak kesakitan. Lalu Beru Patimar berbalik cepat. Dia masuk ke dalam rumah. Kedua orang tuanya belum sempat berbuat apa-apa.

Kemberahen mendekati nenek tua itu dan mencoba menghiburnya. Pengulu marah lalu memanggil Beru Patimar untuk keluar dan minta maaf pada Nondong itu. Lalu Beru Patimar keluar. Dia merasa bersalah telah memukul Nondong itu. Dia menawarkan untuk meminyaki dan mengurut Nenek itu. Namun Nondong menolaknya.

Beru Patimar kembali lagi ke teras rumahnya. Tiba-tiba terdengar lagi suara surdam itu. Semua orang mendengarnya. Beru Patimar berbalik lalu dia memandang ke arah Tualang Si Mande Angin. Dia sangat terkejut.

Dengan cepat Pengulu berlari ke arah pohon itu dan menerobos kerumunan orang-orang. Dia mendekati Penasehat dan bertanya siapa yang meniup surdam itu. Penasehat menjawab, dialah Pawang Ternalem senina Dara itu.

Dara berlari ke rumah Beru Patimar. Dia berteriak senang dan katakan kalau Pawang Ternalemlah yang berhasil memanjat pohon itu. Pawang Ternalem akan menjadi suami Beru Patimar. Beru Patimar sangat terkejut. Dia tidak bisa terima kalau senina Dara si Pawang Ternalem berwajah Begu itu akan menjadi suaminya. Dengan keras dia menolaknya.

Tiba-tiba dari atas datanglah seekor lebah terbang mendekati Beru Patimar. Lebah itu langsung menyengat bibir Beru Patimar. Gadis itu berteriak kesakitan dan langsung roboh. Orang-orang berusaha menolongnya.

Pawang Ternalem turun dari pohon itu. Dia telah membawa madu yang telah dimasukkan dalam kitang, wadah air khas Karo. Dara menyambutnya dengan sukacita. Pawang Ternalem mengatakan dialah yang memerintahkan lebah itu untuk menyengat Beru Patimar agar diberi pelajaran. Lalu mereka pergi dari tempat itu. 

***

Semua hanya terdiam melihat Beru Patimar. Tidak ada yang bisa dilakukan. Gadis itu hanya bisa terbaring lesu. Tidak ada lagi yang bisa diperbuatnya. Jalan terbaik adalah mengobatinya. Obatnya adalah madu Tualang si Mande Angin. Namun madu itu hanya ada pada Pawang Ternalem. Satu-satunya jalan adalah memanggil Pawang Ternalem itu datang.

Walau Beru Patimar menggeleng menolaknya Pengulu tetap bersikeras memanggil Pemuda itu. Tak lama kemudian datanglah Dara dan Pawang Ternalem. Pengulu menyambut mereka dengan sukacita.

Pengulu meminta maaf kepada Pawang Ternalem karena perlakuan Beru Patimar kepada pemuda itu. Pawang Ternalem menganggap itu bukan masalah untuknya. Dia hanya ingin menyembuhkan Beru Patimar. Untuk itu dia mohon ijin untuk menyembuhkan gadis itu.

Mereka semua memandang gadis itu. Semua bernafas lega saat Beru Patimar mengangguk. Pawang Ternalem mendekati gadis itu. Lalu dituangkannya madu itu di sebuah piring. Dan dioleskannyalah madu itu di bibir Beru Patimar. Dia meminta Beru Patimar meminum madu itu. Beru Patimar meminumnya. Beberapa saat kemudian Beru Patimar bangkit. Dia berteriak senang karena penyakitnya telah hilang. Dia telah sembuh. Melihat keajaiban itu semua orang bertepuk tangan senang.

Lalu Pengulu berkata, “Sesuai janjiku yang aku beritakan dalam sayembara ke seluruh Tanah Karo, Deli dan Langkat, siapa laki-laki yang bisa mengambil madu Tualang Si Mande Angin dan menyembuhkan Beru Patimar, dia berhak untuk mengawini Beru Patimar. Sebagai Pengulu, aku akan menepati janjiku.”

Mendengar kata-kata Pengulu, semua yang hadir bertepuk tangan. Pengulu bertanya apakah Beru Patimar menerima Pawang Ternalem sebagai suaminya? Karena pemuda itu yang bisa menyembuhkannya maka Beru Patimar menerimanya. Semua yang hadir bertepuk tangan gembira.

***

Datuk Rubia Gande datang menjumpai Pawang Ternalem. Dia mengucapkan selamat karena pemuda itu telah memenangkan perjuangannya. Pawang Ternalem juga mengucapkan terima kasih karena gurunya itu telah membantunya. Datuk Rubia Gande lalu mengatakan kalau semuanya inilah takdir dari pemuda itu. Lalu Datuk Rubia Gande mengajak Pemuda itu pulang ke kampungnya di Batang Serangan. Dia ingin membuka penyamaran Pawang Ternalem. Mereka lalu pergi dari tempat itu.  

***

Jenggi Kemawar tampak meriah. Hari itu akan diadakan pesta adat perkawinan Pawang Ternalem dengan Beru Patimar. Mereka berkumpul di halaman kesain kampung. Semua sedang menunggu Pawang Ternalem datang.

Seseorang mengumumkan kalau Pawang Ternalem sudah datang. Mereka bersiap mennyambutnya. Pawang Ternalem datang bersama keluarga Dara. Dia sangat gagah dan tampan dan tidak lagi menakutkan. Orang-orang terkejut melihat perubahan dirinya. Terutama Beru Patimar. Dia sangat terkejut melihat perubahan Pawang Ternalem dan dia ber tanya kenapa semuanya bisa berubah.

Pawang Ternalem tersenyum lalu dia berkata, “Hatindu yang bisa merubah aku seperti ini, Nande Karo.”

Semua tertawa. Upacara Adat dilaksanakan dengan pesta meriah. Konon perkawinan itu adalah pesta terbesar di daerah Selesai Langkat ketika itu.

—————————————————————————————-

Demikianlah cerita tentang Pawang Ternalem. Didalam cerita ini ada pesan moral yang sangat berharga agar kita tidak cepat putus asa dan jangan menyerah begitu saja pada takdir. Semua pengorbanan dan kerja keras pasti menghasilkan kebahagiaan dalam hidup kita.

.

Penulis : Joey Bangun

Observasi & Riset Joey Bangun di Jenggi Kemawar tahun 2007

.

Cerita tentang Pawang Ternalem bisa disaksikan disini.

.

Untuk dramanya bisa disaksikan disini.

© Mejuahjuah.id /CATATAN : Setiap konten di website Mejuahjuah.id memiliki hak cipta. Jika ingin mengutip sebagian ataupun seluruh isi dari setiap artikel dalam website ini harap menghubungi kami atau memberikan asal sumber kutipan dari Mejuahjuah.id.
Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *