Legenda Pawang Ternalem

Legenda Pawang Ternalem Mejuahjuah.id I Ensiklopedia Karo

Mejuahjuah.id – Cerita Pawang Ternalem bermula di satu kampung di Tanah Karo. Kampung itu bernama Liang Melas, kampung yang didirikan oleh merga Sembiring Kembaren. Kelahirannya justru menjadi kematian bagi kedua orang tuanya. Empat hari setelah dia dilahirkan Bapanya meninggal. Lalu Empat hari kemudian tepatnya di hari kedelapan menyusul ibunya yang meninggal.

Kematian kedua orang tuanya dalam waktu seminggu, membuat pergunjingan dan ketakutan di kampung itu. Kata tua-tua kampung, kalau anak yang lahir dan menjadi penyebab kematian kedua orang tuanya, anak itu adalah Tendi Nunda atau Tunda Kais, yang artinya si pembawa sial!

Tidak ada yang berani mendekati bayi kecil itu. Hanya bibinya, adik dari bapanya yang berani menggendongnya. Bibi anak itu bernama Menda Beru Sembiring Kembaren. Dia ingin  membesarkan keponakannya itu. Namun orang-orang kampung marah. Mereka tidak mau bayi kecil tumbuh dan besar lalu menyebabkan bencana di kampung itu.  

Seorang dukun terkenal yang biasa disebut Guru Sibaso mencoba mengancam Menda. Kalau sampai Menda membesarkan anak tunda kais itu maka dia akan diusir dari kampung itu. Mereka meminta Menda untuk membawa pergi bayi itu kemudian membuangnya diluar kampung. Menda sangat ketakutan, dia tidak membantah. Dengan menangis dia menggendong keponakannya menuju perbatasan kampung. Sesampai disana diletakkannyalah bayi itu di jalan.

Tiga malam berselang, bayi itu tetap di tempat itu. Dia tampak sehat tidak sakit sama sekali. Kerbau-kerbau yang melewati anak itu tidak memijaknya. Malah hewan-hewan itu menghindarinya. Ular-ular yang lewat di dekat bayi itu hanya menatapnya. Hewan melata itu tahu bahwa anak itu bukanlah makanan mereka.

Anak-anak kampung terkejut ketika mereka melihat anak itu belum mati. Dengan marah mereka membawanya kembali ke kampung. Mereka lalu melemparkannya ke bawah kolong rumah adat. Disana babi-babi peliharan kampung sudah menunggunya. Mereka berharap babi-babi itu akan memakannya.  Menda hanya menatap sedih dari kejauhan

Dalam kolong rumah itu anak itu tidak pernah mati. Babi-babi itu tidak pernah memakannya, mereka menyusuinya. Hewan-hewan itu sangat sayang padanya bahkan menganggap anak mereka sendiri. Di waktu malam mereka tidur bersama. Di waktu siang mereka bermain bersama. Anak itu tumbuh menjadi besar. Lalu dia pergi ke hutan dan melanjutkan hidupnya disana.

***

© Mejuahjuah.id /CATATAN : Setiap konten di website Mejuahjuah.id memiliki hak cipta. Jika ingin mengutip sebagian ataupun seluruh isi dari setiap artikel dalam website ini harap menghubungi kami atau memberikan asal sumber kutipan dari Mejuahjuah.id.
Bagikan

Pages: 1 2 3 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *