Sejarah Terbentuknya Kuta/Kampung

Sejarah Terbentuknya Kuta/Kampung Mejuahjuah.id I Ensiklopedia Karo

Mejuah-juah.id – Pada mulanya penduduk yang tinggal di suatu tempat di wilayah Tanah Karo mendirikan rumah-rumah kecil sebagai tempat tinggal satu keluarga. Bentuknya masih sederhana menyerupai pondok dan terbuat dari bahan yang mudah diperoleh. Kemudian dengan bertambahnya penduduk karena adanya pendatang baru dan keturunan, rumah-rumah bertambah juga yang kemudian menjadi kelompok perumahan yang besar.

Kehidupan mereka diatur berdasarkan kekeluargaan, kepentingan bersama, kekompakan terutama menciptakan suatu kekuatan menghadapi gangguan binatang buas dan juga pendatang yang bemiat buruk. Untuk berbagai hal dan kepentingan, mereka tetap saling bantu membantu. Misalnya di dalam usaha pertanian, mendirikan rumah baru, mendapatkan modal, perbaikan irigasi, membuat pancuran dan lain-lain bertalian dengan kebutuhan kelompok itu.

Pada suatu ketika bila perumahan itu penduduknya telah ramai. maka timbullah gagasan baru untuk mendirikan rumah besar yang lebih kuat dan lebih tahan. Karena dengan cara demikian mereka merasa keamanan lebih terjamin baik dari gangguan binatang buas maupun serangan pendatang yang berniat buruk yang sewaktu waktu dapat terjadi.

Berkat kerja sama dan kesungguhan mereka, akhinya rumah besar tersebut berhasil dibangun dengan bentuk dan konstruksi yang spesifik. Bentuknya dibuat empat persegi panjang, atapnya tinggi dan di dalamnya terdiri dari beberapa kelamin atau “jabu”. Tiangnya dari kayu bulat yang besar dibuat berimpit, dinding dari belahan kayu diikat dengan tali “ret-ret”, atapnya dari ijuk dan di atas ujung atap dipasang tanduk. Bagian depan rumah itu dibuat beranda yang disebutnya “ture”. Semua bahan rumah tersebut tidak ada yang dibeli, karena masih ada dan banyak di sekitar tempat tinggalnya.

Rumah besar yang telah berdiri itu memang gagah dan indah kelihatannya, makanya menjadi contoh pula bagi keluarga lainnya. Dengan disponsori oleh Bangsa Tanah dan masyarakat lainnya didirikan pula rumah baru. Maka bertambahlah rumah besar di tempat itu dan akhirnya terbentuk menjadi kampung. Kampung yang telah berdiri dilengkapi pula dengan prasarana sederhana antara lain, tepian (pancuran), kuburan dan tempat persembahan masyarakat yang disebut “pengulu balang” di antaranya ada pula disebut “buah huta-huta”. Untuk lebih lengkap, Bangsa Tanah bersama masyarakat membuat Pulo-pulo kuta yaitu di sekeliling kuta ditanami kayu-kayuan, bambu, pokok pinang atau pokok kelapa. Dengan adanya pulo-pulo kuta tersebut dari jauh telah diketahui bahwa di tempat itu ada kuta.

Selanjutnya untuk kuta (kampung) yang telah berdiri oleh Bangsa Tanah dan masyarakat diberi nama agar kalau ada orang bertanya dapat dijawab dengan nama tersebut. Dalam lingkungan kampung secara bertahap didirikan “jambur” tempat musyawarah, pagar keliling dan tempat penyimpanan padi yang disebut “keben” juga untuk keperluan menumbuk padi didirikan dan dibuat “lesung” kuta.

Lain di luar kampung mencari lahan pertanian yang lebih subur. Sementara, mereka masih bolak-balik ke kampungnya semula dan akhimya mereka mendirikan tempat tinggal serupa gubuk di tempat itu. Jumlah mereka yang tinggal di tempat itu bertambah pula, ada tiga sampai sembilan keluarga sehingga tempat mereka masih dinamai “barung-barung”.

Tanah kosong di sekitar barung-barung itu masih cukup luas dan subur. Tidak heran bahwa tempat itu semakin hari semakin bertambah penduduknya yang tinggal menetap disitu. Mereka juga akhirya mendirikan rumah besar sehingga barung-barung itu bembah menjadi satu kampung.

Kampung yang duluan berdiri dianggap sebagai kampung bapa dan yang menyusul disebut kampung anak. Demikian halnya dengan barung-barung yang lain akhirnya berubah menjadi kampung atau kuta. Semua kampung yang berdiri dengan asal kampung yang satu merupakan kampung anak berdasarkan garis keturunan dan sejarah dan tetap tunduk kepada wibawa pendiri kampung asal sebagai Bangsa Tanah. Dapat ditambahkan bahwa rumah besar yang berhasil didirikan dengan bentuk khusus oleh masyarakat Karo akhirnya disebut Rumah Adat Karo.

*) Diangkat dari Buku Pilar Budaya Karo (Sempa Sitepu, Bujur Sitepu, AG. Sitepu)

————————————-

© Mejuahjuah.id /CATATAN : Setiap konten di website Mejuahjuah.id memiliki hak cipta. Jika ingin mengutip sebagian ataupun seluruh isi dari setiap artikel dalam website ini harap menghubungi kami atau memberikan asal sumber kutipan dari Mejuahjuah.id.
Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *