Sibayak 6

Toerin-Toerin Joey Bangun – Mejuahjuah.id

“Mama saya seorang Karo, Juffrow,” kata supir itu. Dia bernama Rob Vuurmans. Walau Indo tapi rahangnya tidak bisa membohongi kepribumian yang mengalir dalam darahnya.

Kami sedang minum teh di lobby hotel. Aku memang sengaja mengundangnya. Sebuah kiat untuk mengatasi rasa jemu yang semakin merasuk. Mama sedang beristirahat di kamarnya. Jadilah Rob menjadi teman bicara. Ia tidak sedikitpun canggung. Walau ada kelas majikan dan bawahan antara kami berdua.

“Karo ?” jawabku tidak mengerti.

“Sebuah suku di Sumatera Timur. Tempat dimana Juvrow dan keluarga akan tinggal,” tambahnya.

“Kalau kau tidak keberatan, bolehkah kau menceritakan kepadaku tentang suku Karo itu,” kataku semakin tertarik. Aku harus mengetahuinya. Bagaimanapun nanti aku harus tinggal ditengah-tengah mereka. Sebuah kalimat indah berbahasa Belanda terlintas di benakku,’Het hart des verstandingen bekomt wetenschap, en het oor der wijzen zoekt wetenschap’ Hati yang berpengertian menggalang pengetahuan, telinga yang bijak menagih pengetahuan.

Rob mengangguk kemudian menegakkan duduknya. Ia mengambil cangkir lalu meneguk tehnya. Setelah cangkir itu dikembalikan keatas piringnya.

‘Tentu Juffrow !“ wajahnya serius,” Saya sangat bangga bisa menceritakan pada anda tentang suku Karo itu. Apalagi setengah dari darah saya adalah darah Karo.”

Aku menunggu dia melanjutkan.

“Karo adalah perjuangan. Mungkin itu pengertian yang saya berikan. Mengingat sejarah yang melekat di benak orang-orang Netherland yang pernah tinggal disana. Sebuah etnis yang sopan berlaku tuturnya tapi ketegasan menjadi tolak ukurnya,” katanya bangga.

Baca Juga  Sibayak 7

Seorang pelayan Cina datang. Ia menuangkan teh tambahan ke cangkir kami masing-masing. Kami mengangguk terima kasih. Ketika pelayan Cina itu pergi Rob melanjutkan ceritanya.

“Tidak ada yang bisa melupakan perjuangan mereka menentang pemerintah kolonial.  Kobaran perjuangan itu mereka beri nama Musuh Berngi.”

“Musuh Berngi” kataku tidak mengerti.

“Ya Musuh Berngi, Juffrow. Perang gerilya dengan membakar bangsal-bangsal tembakau milik Belanda,”ucap Rob.

Aku merasakan aliran darahku terhenti. Kekhawatiran merasuki sukmaku. Bukankah ayah akan memiliki salah satu dari perkebunan tembakau itu. Tentu saja aku akan tinggal bersama  mereka. Tapi apakah mereka juga akan membakar bangsal-bangsal tembakau milik kami, atau bahkan memangsa kami seperti binatang liar, atau..

“Juffrow tidak perlu khawatir,” suara Rob menyadarkanku akan kesunyian. Aku yakin dia mengerti kekhwatiran yang kupendam. Wajahku tidak bisa berbohong. Aku bukan seorang aktor yang memiliki seribu satu wajah. Walau mama mantan seorang bintang opera, tapi aku tidak mewarisi sedikitpun darah seni yang dimilikinya.

“Itu dulu, Juffrow. Sekarang tidak lagi,” lanjut Rob,”Musuh Berngi sudah berakhir. Sejak kedatangan misionaris dari Nederlandsche Zending Genootschap berangsur-angsur aksi mereka semakin berkurang. Malah beberapa orang Belanda sudah menjadi sahabat mereka.”

Aku menghela nafas lega. Paling tidak perkataan Rob terakhir sedikit mengurangi rasa takutku.

“Disana ada sebuah gunung, Juffow,” tambah Rob,” Gunung yang menjadi kebanggaan akan Karo itu sendiri.”

Rob menahan kata-katanya. Aku memandangnya dengan pandangan penuh Tanya.

Rob menghela nafas,” Gunung itu bernama Sibayak.”

Bersambung

© Mejuahjuah.id /CATATAN : Setiap konten di website Mejuahjuah.id memiliki hak cipta. Jika ingin mengutip sebagian ataupun seluruh isi dari setiap artikel dalam website ini harap menghubungi kami atau memberikan asal sumber kutipan dari Mejuahjuah.id.

Leave a Reply